Banjir dan Longsor Berlanjut, Harapan Rakyat pun Hanyut

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Kamis (05/02/2026) – Artikel berjudul “Banjir dan Longsor Berlanjut, Harapan Rakyat pun Hanyut” ini ditulis oleh Suryani, seorang ibu rumah tangga kelahiran Jakarta yang kini menetap di Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Bencana banjir dan longsor yang terus berlanjut bukan hanya merenggut harta dan tempat tinggal, tetapi juga menggerus harapan rakyat sedikit demi sedikit. Di tengah air yang meluap dan tanah yang runtuh, ada jeritan sunyi masyarakat yang kehilangan rasa aman, kepastian, dan masa depan. Bencana ini seakan tak sekadar hadir sebagai peristiwa alam, melainkan cermin dari kelalaian panjang yang dibiarkan, hingga penderitaan rakyat pun ikut hanyut bersamanya.

Ilustrasi: Suasana pencarian korban longsor oleh TIM SAR di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat – (Sumber: Arie/BJN)

Berdasarkan catatan BNPB, dalam rentang 1–25 Januari 2026 tercatat sedikitnya 128 peristiwa banjir dan 15 kejadian tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Indonesia. Tragedi longsor di Cisarua menelan korban jiwa hingga 70 orang meninggal dunia, sementara 10 orang lainnya masih dinyatakan hilang.(Jabar.inews.com 04/02/2026).

Suryani, Penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Maraknya bencana banjir dan longsor yang terjadi di ratusan daerah hanya dalam waktu satu bulan menjadi alarm keras atas semakin parahnya kerusakan lingkungan yang dipicu oleh aktivitas manusia. Kondisi ini mencerminkan lemahnya tanggung jawab pemerintah dalam mengelola tata ruang dan menjaga keseimbangan alam sebagai ruang hidup rakyat. Paradigma kapitalisme yang mendominasi kebijakan telah menggerus sendi-sendi kehidupan, sekaligus menyeret harapan rakyat akan rasa aman dan kesejahteraan ke dalam arus kehancuran.

Sungai, bukit, hutan, tambang, dan seluruh sumber daya alam diciptakan Allah SWT untuk kemaslahatan hidup manusia, bukan untuk dirusak. Manusia sebagai khalifah fil ardh memiliki kewajiban mengelola alam sesuai dengan panduan syariat, bukan berdasarkan hawa nafsu atau kepentingan keuntungan semata.

Ketika kebijakan pengelolaan alam menyimpang dari syariat melalui eksploitasi berlebihan dan tata ruang yang serampangan maka kerusakan dan bencana menjadi konsekuensi yang tak terelakkan. Karena itu, paradigma kapitalisme sekuler yang mendasari kebijakan pengelolaan alam harus diganti dengan paradigma syariat Islam agar alam terjaga, rakyat terlindungi, dan kehidupan berlangsung aman serta berkelanjutan. (Suryani)

***

Judul: Banjir dan Longsor Berlanjut, Harapan Rakyat pun Hanyut

Penulis: Suryani, Ibu Rumah Tangga

Editor: JHK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *