Puisi : Epilog

Berita Jabar News (BJN), Kolom sastra, Kamis (01/01/2025) ─ Puisi berjudul “Epilog” merupakan sebuah tulisan karya Meydashinta, pecinta literasi yang hobi menulis.
Di Telapak Mata yang Menghakimi
Di atas telapak tangan raksasa yang dingin,
Aku berdiri, kecil, hijau, dan asing.
Bukan kulit manusia yang kupakai hari ini,
Tapi warna luka dari kata-kata yang kau beri.
Lihatlah mata-mata itu, ratusan jumlah memandang .
Tak satu pun berkedip, tak satu pun menyapa.
Mereka hanya menatap, menilai, dan meminta,
Selembar “Validasi” sebagai ganti nyawa.
Tali kuning ini melingkar, hangat namun mematikan,
Bukan pelukan ibu, tapi jerat tuntutan.
Ikan-ikan emas berenang di udara hampa,
Menjadi saksi bisu, aku teriak, tapi tak ada suara.
Lalu turunlah ke bawah, ke dalam gelap yang pekat .
Di mana “Diam” akhirnya mulai “Bercerita” dengan berat.
Tak ada lagi mata yang menuduh di sini .
Hanya daun kehidupan yang tumbuh lirih .
Lihat burung-burung putih itu?
Itu adalah bagian diriku yang memilih berlalu.
Terbang menjauh dari tangan yang mencengkeram,
Menuju bulan retak di langit malam.
Maafkan jika akhirnya aku membisu,
Sebab duniaku terlalu bising oleh penghakimanmu.
Kini aku abadi dalam kanvas yang sepi,
Mencari tenang yang tak pernah kalian beri.

***
