Ketika Kepatuhan Menjadi Kuburan Jiwa

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom SASTRA, Selasa (01/01/2026) – Cerpen berjudul “Ketika Kepatuhan Menjadi Kuburan Jiwa” ini merupakan karya original dari Febri Satria Yazid yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang pengusaha, penulis, dan pemerhati sosial. Penulis yang berasal dari Sumatra Barat ini merupakan anggota Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni) dan Ketua Forum TBM Kota Cimahi Periode 2025-2030.
Haidah kecil tumbuh di rumah yang tak pernah benar-benar sunyi. Bukan karena tawa yang berlimpah atau percakapan hangat yang menenangkan, melainkan oleh kegaduhan yang tak kasatmata, rahasia yang disembunyikan, ketakutan yang dipendam, dan kepura-puraan yang diwariskan seperti udara pengap yang harus dihirup setiap hari.
Lahir sebagai anak yang tidak diinginkan, terbukti dengan adanya upaya ibunya untuk menggugurkan kandungan dan ketika upaya ini gagal, saat lahir ayahnya pun sempat berucap bahwa dia bukanlah anaknya. Sejak dini, Haidah belajar bahwa tidak semua luka boleh diceritakan. Ada aib yang harus dipeluk sendiri. Ada perih yang harus ditelan tanpa suara.
Ketika remaja, terbersit keinginan yang bahkan terasa kejam bagi dirinya sendiri, ia ingin tidak mengakui ibunya. Ia takut jika ada yang bertanya, “Ibumu siapa?” Rasa malu itu datang bukan karena kebencian, melainkan karena kelelahan yang terlalu lama dipendam. Mencintai sesuatu yang terus melukai, tanpa pernah bisa menghindar, adalah beban yang tak semua orang sanggup pikul.

Rumah kontrakan tempat mereka tinggal menjadi saksi banyak peristiwa yang perlahan membentuk retakan di jiwa Haidah. Di sanalah, suatu hari, ayahnya menangkap perselingkuhan ibunya bersama sahabatnya sendiri. Namun yang paling menghancurkan bukan semata pengkhianatan itu, melainkan sumpah yang meluncur dari bibir ibunya, bersumpah atas nama anak-anaknya sendiri, memutarbalikkan kebenaran dengan lidah yang dingin dan tanpa ragu, bahwa jika hal yang dituduhkan suaminya pada dirinya benar, maka ibunya berani bersumpah, anak-anaknya bakal disambar petir. Haidah tidak menangis, dia sudah terlalu lama kebal. Luka itu tak lagi berdarah; ia mengeras, membatu, dan menetap di ruang terdalam jiwanya.
Dia tidak sadar, bahwa setiap kepatuhan yang tak disertai cinta perlahan mengubur sesuatu di dalam dirinya. Bukan tubuhnya, melainkan jiwanya. Dia hidup bertahun-tahun dalam kepatuhan yang sunyi,hingga suatu hari, dia menyadari sesuatu yang menggetarkan bahwa Tuhan tidak pernah memintanya mati perlahan. Kesadaran itu datang bukan sebagai petir, melainkan sebagai cahaya kecil yang menembus liang terdalam jiwanya. Dan dari sanalah dia mulai menggali. Bukan untuk melawan siapa pun, melainkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Sejak paham keberadaan agama dalam hidupnya, yang dia peroleh dari lingkungan tempat dia berinteraksi di luar rumah, dia diajari satu cita-cita yang tampak suci yaitu menjadi perempuan sholehah. Hal inilah yang mendorongnya menikah muda. Karena merasa kepatuhannya telah menjadi kuburan jiwa dalam perjalanan hidupnya, Haidah berasumsi bakal meninggal muda, dan berpikir apa yang mesti dia persiapkan jika dia mati muda ? Jawabannya dia harus segera punya anak, karena setelah manusia meninggal ada tiga amalan yang pahalanya terus mengalir, salah satunya adalah doa anak, hasil dari dogma passive pahala yang dia peroleh dari kajian-kajian yang dia ikuti.
Haidah bukan perempuan yang utuh, bukan perempuan yang berdaya, melainkan perempuan yang patuh, yang tahu batas,yang tahu diam, yang tahu bagaimana menyingkirkan dirinya sendiri demi terlihat benar di mata Tuhan dan manusia. Kesalehan baginya bukan sekadar nilai,melainkan tangga. Semakin tinggi dia menaikinya,semakin dia merasa dekat dengan surga.
Dia tak sabar menjalankan peran mulia itu, sehingga pada usia belia saat masih berstatus mahasiswi di Perguruan Tinggi ternama di Negeri ini, dia memutuskan menerima pinangan lelaki yang dia kenal melalui proses ta’aruf yang merupakan bagian dari ukhuwah Islamiyah yang sangat direkomendasikan kepada muslimin dan muslimah dalam proses saling mengenal melalui mediator yang diyakini akan bertindak obyektif dalam mencari tahu 4 kriteria memilih pasangan dalam Islam yaitu pasangan yang baik hartanya. yang baik keturunannya, yang cantik / tampan wajahnya dan yang baik agamanya.
Dia malahan mengajukan 13 kriteria kepada perantara ta’aruf mereka, ada 9 kriteria tambahan dan menurut mediator setelah dia telusuri dengan seksama, kriteria tersebut semuanya ada pada lelaki tersebut. MasyaAllah, dengan rasa syukur yang amat dalam, dia menerima lelaki idaman yang melebihi hadis yang dia pelajari. Tak sabar dia ingin punya momongan sebagai bagian dari obsesi berumah tangganya punya anak sebanyak-banyaknya sesuai dengan ajaran agama yang dia yakini, bahwa anak adalah pembawa berkah, penarik rezki, yang kelak senantiasa mengirimkan doa setelah dia meninggalkan alam semesta dan berbagai dogma lain tentang faedah banyak anak.
Apa yang sering dia baca atau dia lihat dalam kehidupan rumah tangga yang baru, ada fase bulan madu ternyata jauh dari realitas yang dia alami. Hari ke 3 pernikahannya, dia sudah dihadapkan pada kenyataan pahit yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan bakal dia alami. Kekerasan verbal dia terima dari suaminya, telah jadi luka batin pertama yang dia alami. Dogma tentang istri yang taat, dengan kisah-kisah perempuan sholehah yang selalu diceritakan tentang kesabarannya, ketundukannya, dan kemampuannya menahan diri, bahkan ketika dirinya sendiri terluka, dia terima karena dirinya takut berdosa. Tidak pernah ada cerita tentang perempuan yang bertanya. Maka sejak belia, dia belajar satu hal yang kelak mengendap dalam-dalam bahwa kesalehan adalah mengalah. Dia tidak membayangkan kebahagiaan, melainkan kelulusan.
Lulus sebagai istri yang baik. Lulus sebagai perempuan yang tidak membantah. Lulus sebagai hamba yang rela mengorbankan dirinya, demi pahala yang dijanjikan kelak. Ketika dia menikah, obsesi itu menemukan panggungnya. Setiap konflik dia telan sebagai ujian. Setiap ketidakadilan dia bungkus dengan dalil. Setiap kekecewaan dia paksa berubah menjadi syukur. Dia percaya, selama dia taat, selama dia tidak melawan, selama dia terus memperbaiki diri, rumah tangganya akan diridhai Tuhan.
Dia menyimpan keyakinan itu seperti doa rahasia, menjaganya dengan sungguh-sungguh, dalam mimpinya tentang pernikahan, Dia tidak sadar, bahwa kesholehan yang tumbuh tanpa kesadaran mudah berubah menjadi penjara. Dia tidak sadar, bahwa dogma yang diterima tanpa nalar dapat menidurkan nurani.
Hari demi hari berlalu tanpa tanda bahaya yang jelas, tidak ada tamparan,tidak ada jerit. Hanya kalimat-kalimat yang merendahkan, keheningan yang mematahkan dan rasa bersalah yang terus ditanamkan. Asumsi dia bakal meninggal pada usia 25 tahun, tidak kejadian. Kehidupan rumah tangga dengan lelaki pilihannya telah satu setengah dekade dilaluinya, obsesinya untuk punya anak banyak telah dikabulkan Tuhan, satu orang gadis cantik dan tiga lelaki tampan telah hadir sebagai pelipur lara Haidah.
Dia tidak sadar bahwa kepatuhan yang kehilangan kasih, perlahan berubah menjadi liang sunyi, tempat jiwanya dikubur hidup-hidup. Hingga suatu malam, di antara doa yang tak lagi menenangkan dan air mata yang jatuh tanpa suara, dia berani mengajukan satu pertanyaan yang selama ini ia kubur rapat: Apakah Tuhan benar-benar menghendaki hambanya hancur demi ketaatan yang dipaksakan? Pertanyaan itu tidak langsung memberi jawaban. Namun ia membangunkan sesuatu yang lama tertidur.
Kesadaran kecil, namun jujur. Dan dari sanalah dia mulai mengerti bahwa iman tidak pernah meminta kehilangan diri, bukan tentang pemberontakan, bukan pula tentang kebencian. Haidah seorang perempuan, yang memilih menggali jiwanya kembali setelah terlalu lama dikubur atas nama kepatuhan. Bukan berarti dia memilih menjadi istri yang durhaka, tetapi tentang Haidah perempuan yang akhirnya menemukan kesadaran dan memerdekakan dirinya dari belenggu dan keterpasungan jiwa. Bangkit dan melepaskan diri dari suami yang telah memberinya banyak luka.
Penyimpangan perilaku suami yang fetisisme seksual (mengalami gairah seksual yang intens dan berulang terhadap benda mati atau bagian tubuh tertentu yang bukan merupakan organ seksual utama ) telah jadi jalan pembuka baginya dalam melepaskan diri dari ikatan pernikahan. Haidah yang lalu sudah mati, jiwanya telah terkubur lama dan ketika kesadaran itu muncul, merilis luka-luka yang dia alami, dari “abunya” lahir Haidah baru dengan perspektif berbeda mengenai kehidupan.
Haidah, perempuan yang selama empat tahun menjanda dan belajar berdamai dengan kehilangan, berkesimpulan bullshit tentang cinta sejati. Diluar dugaannya, semesta seolah bersekongkol dalam diam, takdir mempertemukannya dengan sebuah nama. Seorang pria datang bukan sekadar sebagai pelipur, melainkan sebagai rumah yang menghargai luka-lukanya, mencintainya tanpa syarat, dan menggenggam hidupnya dengan sepenuh hati, seakan berkata bahwa cinta sejati itu ada dan bukan omong kosong.(fsy)
***
Judul: Ketika Kepatuhan Menjadi Kuburan Jiwa
Jurnalis: Febri Satria Yazid (FSY)
Editor: Tiyut
