ArtikelBerita Jabar NewsBJNOpiniSosial

Akibat di Hilir, Akar Masalah di Hulu: Saat Nalar dan Nurani Terseret Banjir

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Minggu (13/12/2025) – Esai berjudul Akibat di Hilir, Akar Masalah di Hulu: Saat Nalar dan Nurani Terseret Banjirini adalah karya Didin Kamayana Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Gambar-gambar air bah menggulung segala yang dilewatinya, deretan jenazah terbungkus terpal, dan rumah-rumah yang tersapu lumpur—itulah potret pilu Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat akhir-akhir ini. Lebih dari 960 nyawa melayang, ratusan lainnya hilang, dan hampir satu juta orang mengungsi, menjadikan ini salah satu bencana paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir.

Namun, di tengah narasi yang mudah menyalahkan “curah hujan ekstrem” atau “fenomena siklon tropis langka”, ada realitas lain yang terhampar jelas: ribuan kayu gelondongan hanyut bersama arus banjir, bagaikan nisan raksasa dari hutan yang telah musnah .

Banjir
Ilustrasi: Suasana pascabanir – (Sumber: Arie/BJN)

Inilah tragedi yang sepenuhnya bisa diprediksi, bencana yang dipesan jauh hari sebelumnya. Ketika kita menebang pohon dengan membabi buta dan menggerogoti hutan hingga gundul bulistir, kita sebenarnya sedang membangun bom waktu ekologis. Sinyal bahaya ini bukan lagi bisikan, tapi sudah berteriak.

UNESCO telah mencatat Hutan Hujan Tropis Sumatera—sebuah Warisan Dunia yang menyimpan keanekaragaman hayati tak ternilai—ke dalam daftar “dalam bahaya” sejak 2011 akibat perambahan dan penebangan liar. Degradasi lingkungan ini bukan sekadar masalah konservasi satwa langka; ia adalah masalah keberlangs hidup manusia.

Analisis ilmiah dan temuan di lapangan menunjukkan hubungan yang tak terbantahkan. Hutan berfungsi sebagai spons raksasa yang menyerap dan menyimpan air. Ketika ia hilang, kemampuan tanah menyerap air bisa turun hingga 55%, dan limpasan air permukaan bisa melonjak drastis hingga 90% . Inilah yang mengubah hujan deras menjadi banjir bandang yang merusak.

Kementerian Lingkungan Hidup sendiri telah mengidentifikasi kerusakan hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru dan Sibuluan sebagai pemicu utama, di samping curah hujan tinggi . Bahkan, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq tegas menyatakan bahwa bencana ini “tidak semata-mata karena alam” dan menunjuk aktivitas perkebunan industri, pembangunan PLTA, serta pertambangan emas sebagai sumber tekanan yang memperparah situasi .

Maka, argumentasi untuk menolak bantuan asing dengan dalih harga diri adalah ironi yang tragis. Di satu sisi, kita bangga menolak uluran tangan karena alasan kedaulatan. Di sisi lain, kita dengan sukarela—atau karena ketidakpedulian—membiarkan sekelompok pihak merusak kedaulatan ekologis kita sendiri.

Harga diri sejati sebuah bangsa terletak pada kemampuannya melindungi rakyat dan tanah airnya, bukan pada sikap apologi terhadap kehancuran yang kita undang sendiri. Apa artinya harga diri jika anak-cucu kita kelak hanya mewarisi tanah yang gersang dan ingatan akan bencana yang berulang?

Solusi untuk memutus lingkaran setan ini harus dimulai dari akar masalah dan dijalankan secara berlapis. Pertama, penegakan hukum tanpa kompromi adalah keniscayaan. Pemerintah telah mengambil langkah awal dengan menangguhkan izin operasi perusahaan di kawasan Batang Toru dan menyelidiki 12 subjek hukum yang diduga terkait.

Tindakan tersebut harus berlanjut menjadi proses hukum yang transparan dan menjadi preseden kuat. Kedua, kita perlu reorientasi ekonomi. Banyak masyarakat terpaksa merambah hutan karena tekanan ekonomi. Oleh karena itu, perlu dikembangkan model ekonomi alternatif yang memberdayakan, seperti agroforestri, ekowisata berbasis konservasi, dan pengakuan serta dukungan terhadap pengelolaan hutan adat .

Ketiga, dan yang paling fundamental: “Tanam… tanam… tanam…” bukan lagi sekadar slogan, melainkan gerakan nasional untuk memulihkan. Rehabilitasi hutan dan reboisasi besar-besaran di daerah hulu dan daerah aliran sungai yang kritis harus menjadi prioritas anggaran dan program jangka panjang.

Data menunjukkan deforestasi netto di Sumatera masih sangat tinggi, mencapai 78.030 hektar pada 2024. Upaya penghijauan harus mengalahkan angka kehilangan ini.

Bencana di Sumatera adalah cermin retak yang memantulkan kegagalan kolektif kita dalam menghargai keseimbangan alam. Air bah yang melanda Tapanuli Tengah, di mana jalan aspal berubah menjadi sungai dan warga seperti Delinca Pangabean terus-menerus mengusir lumpur dari rumahnya adalah konsekuensi yang datang dari hulu .

Masa depan kita tidak boleh lagi menjadi sandera dari keserakahan hari ini. Mari selamatkan hutan yang tersisa, bukan hanya dengan seruan, tetapi dengan tindakan nyata, hukum yang adil, dan tekad bulat untuk memastikan tragedi ini menjadi yang terakhir. Hutan yang lestari bukan sekadar paru-paru dunia, melainkan tameng terkuat bagi keselamatan bangsa.

***

Judul: Akibat di Hilir, Akar Masalah di Hulu: Saat Nalar dan Nurani Terseret Banjir
Penulis: Didin Tulus, sang Petualang Pameran Buku
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin Tulus, Penulis – (Sumber: Didin Tulus/BJN)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *