BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom SASTRA, Minggu (23/11/2025) ─ Puisi Sestina berjudul “Kehangatan Hadir dalam Diamnya” ini merupakan hasil karya Indruew Sutanto, seorang penulis yang baru menapaki dunia literasi sebagai perjalanan batin. Baginya, menulis bukan sekadar ekspresi, tetapi cara menimbang nilai dan memahami esensi manusia yang beradab.
Dalam pertemuan, seperti cahaya, dia hadir
adakah arti kasih yang bertahan di antara jarak
mengisi ruang hampa yang luas, namun tetap diam.
Setiap tawa, setiap pandangan, memercikan hangat,
namun begitu jarak memisahkan, tersisa hanya rindu,
dan hati bertanya-tanya pada putaran waktu,
Di malam sunyi, kenangan itu tetap hadir dalam waktu.
Tatapannya yang lembut seakan selalu hadir.
Kehampaan terasa di antara momen dan rindu.
Tetapi terasa ada koma memisahkan jarak.
Dalam setiap langkah, tetap ada cahaya kecil, hangat.
Hening sejenak, menimbang makna diam
Aku menahan hati, belajar menerima diam.
Segalanya terasa mengalir dalam lingkaran waktu.
Dalam keheningan, aku menjaga hangat,
dan memahami cara dia benar-benar hadir.
Seperti benang merah tipis yang terulur karena jarak.
Dalam hiruk pikuk dunia, aku merasakan rindu
Tenang, tapi nyata, begitu larut dalam langkah rindu,
seperti harapan kecil yang menembus di kegelapan diam.
Dalam penantian, aku belajar menerima jarak,
Di saat itu, aku belajar menghargai setiap detik waktu.
dan menghargai momen ketika dia sepenuhnya hadir.
Ada ingatan yang tak pernah padam dan hangat.
Kadang cahaya kecil menembus kegelapan, memberikan hangat.
muncul tanpa suara, lembut dan tersembunyi itulah rindu.
Aku tetap menunggu dia datang, tetap hadir.
Dan belajar berdamai dengan kesunyian yang diam.
Dalam setiap hening, aku menghitung detik waktu.
Aku menerima perbedaan, meski ada jarak.
Dan meski terbentang jauh, kita tetap dekat dalam jarak.
Api hati terus hidup, tak pernah padam, memberikan hangat.
Semua itu menjadi pelajaran dalam putaran waktu.
Terasa manis tapi juga sepi dalam rindu
Aku belajar menghargai sunyi dan tenangnya diam.
bayangannya tetap terasa, meski tidak selalu hadir.
Dirinya selalu hadir, untuk memberikan rasa hangat,
walau terpisahkan oleh jarak dan terbatas oleh waktu,
tetap terasa nyata walau rindu, dalam setiap detik yang diam.
***
Judul: Kehangatan Hadir dalam Diamnya
Pengarang:
Editor: JHK
Sekilas tentang Penyair
Indruew Sutanto adalah seorang penulis yang baru menapaki dunia literasi sebagai perjalanan batin. Baginya, menulis bukan sekadar ekspresi, tetapi cara menimbang nilai dan memahami esensi manusia yang beradab. Ia percaya bahwa kebaikan bukan sekadar ajaran, melainkan cara hadir di dunia dengan lembut dan sadar.

Indruew suka berpikir dan berjalan perlahan di antara logika dan rasa. Hidupnya diwarnai oleh dorongan untuk memahami esensi manusia yang beradab. Bukan dari teori, melainkan dari pengalaman kecil yang menyingkap rasa dan makna.
Selama lima bulan terakhir, lewat tulisan-tulisan kecil, Indruew menapaki dunia literasi seperti pengelana yang baru menemukan peta batin untuk dirinya sendiri. Tulisan baginya bukan sekadar bentuk ekspresi, tetapi alat untuk menimbang nilai, menata nurani, dan menjaga agar pikirannya tetap jernih di tengah riuh dunia.
Pria ramah ini menulis bukan untuk mengubah nilai-nilai kehidupan yang sudah ada, hanya berharap bahwa manusia bisa belajar untuk menjadi lebih manusia. Di ruang-ruang sepi, kata-kata menjadi rumah. Indruew menulis bukan untuk bersuara, tetapi untuk mendengar gema diri sendiri.
Sejujurnya Indruew mengakui bahwa dirinya bukanlah orang yang terlalu reflektif; hanya seseorang yang menyukai hal-hal yang transparan dalam kedalaman. Mungkin ia manusia yang berpikir terlalu jauh, tetapi selalu berusaha untuk tidak kehilangan rasa. Ia sering mempertanyakan, bukan untuk membantah, melainkan untuk memahami lebih dalam apa yang tersembunyi di antara hal-hal kecil.
Perjalanan tulisan Indruew ini bukan tentang menemukan jawaban, melainkan tentang menumbuhkan kehalusan berpikir dan merasakan. Pencarian terhadap esensi manusia yang beradab membuat kita menyelami batas antara moral dan eksistensi, antara kebebasan dan tanggung jawab. Dari semua itu, keyakinannya berakar pada nilai-nilai hidup bahwa kebaikan bukan sekadar ajaran, tetapi cara hadir di dunia dengan lembut dan sadar.
***